Gesture, Sign, and Deaf Inclusive Communication (GESDIC) 2026

     Dalam upaya nyata menciptakan lingkungan medis yang inklusif dan setara bagi semua lapisan masyarakat, Observer CIMSA UNY Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan GESDIC (Gesture, Sign, and Deaf Inclusive Communication) 2026. Mengusung tema krusial “Meningkatkan Kesadaran dan Keterampilan Komunikasi Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Tuli dalam Pelayanan Kesehatan”, acara edukatif ini telah dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026. Bertempat di Ruang Kelas Lantai 3, Gedung Lab Terpadu Fakultas Kedokteran UNY, agenda ini hadir sebagai langkah solutif untuk meruntuhkan dinding pembatas komunikasi yang selama ini kerap dihadapi oleh kelompok disabilitas saat mengakses fasilitas kesehatan.

    Sepanjang rangkaian acara, para peserta tidak hanya disuguhkan teori mengenai urgensi empati dalam komunikasi, melainkan juga dibekali dengan pelatihan praktis bahasa isyarat dasar. Edukasi interaktif ini dirancang khusus untuk memberikan pemahaman mendalam tentang tata cara berinteraksi serta melayani penyandang disabilitas tuli dan tuna wicara secara tepat di sektor medis. Melalui simulasi langsung, peserta diajarkan isyarat-isyarat dasar yang sangat aplikatif, mulai dari sapaan ramah hingga istilah medis sederhana, yang nantinya dapat mempermudah proses anamnesis dan meminimalisir risiko kesalahpahaman klinis. Garis Besar Kegiatan: Meningkatkan literasi bahasa isyarat bagi calon tenaga kesehatan demi menciptakan pelayanan medis yang adil, setara, dan ramah disabilitas.

     Kegiatan yang berlangsung dinamis ini berjalan dengan sangat lancar serta memicu antusiasme yang luar biasa, baik dari jajaran panitia maupun para peserta yang hadir. Melalui keberhasilan pelaksanaan GESDIC 2026, Observer CIMSA UNY menaruh harapan besar agar keterampilan komunikasi inklusif ini dapat diimplementasikan secara nyata, baik dalam interaksi sosial sehari-hari maupun saat memberikan pelayanan kesehatan di masa mendatang. Langkah awal ini diyakini mampu menjadi pemantik perubahan besar demi terwujudnya sistem kesehatan masa depan yang tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga hangat dan merangkul seluruh pasien tanpa terkecuali.