You are here
Festival Sepak Bola 9 vs 9 di Sleman Sukses Jaring Bakat Muda PSS Sleman

SLEMAN – Masa transisi atlet remaja seringkali menjadi tantangan besar dalam dunia sepak bola. Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar sebuah inovasi kompetisi bertajuk "Festival 9 vs 9 Transition Phase Competition Soccer School" yang berlangsung pada 11–12 Juli 2026 di Lapangan Baru Desa Kepuharjo, Sleman. Kegiatan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sulistiyono, M.Pd. ini bukan sekadar turnamen biasa. Berkolaborasi dengan Askab PSSI Sleman, SSB Satria Sembada, dan Forum Main Bola Bareng, festival ini dirancang khusus untuk mengidentifikasi bakat-bakat potensial bagi PSS Youth Development Squats Under-13.
Inovasi Format 9 vs 9 Berbeda dengan standar sepak bola dewasa 11 lawan 11, format 9 vs 9 dipilih karena dinilai lebih adaptif bagi anak-anak usia 13 tahun yang sedang berada dalam fase transisi fisik dan biologis. Dengan jumlah pemain yang lebih sedikit dan ukuran lapangan yang disesuaikan (75 x 55 meter), setiap pemain mendapatkan frekuensi sentuhan bola dan kesempatan mengambil keputusan yang lebih tinggi. "Model ini menempatkan kebutuhan perkembangan pemain sebagai fokus utama atau player-centered development," tulis laporan tersebut. Melalui observasi langsung dalam situasi pertandingan nyata, tim pelatih dapat menilai kecerdasan bermain (game intelligence), teknik, hingga kemampuan komunikasi antar pemain secara lebih objektif dibandingkan tes fisik terpisah.
SSB Kalasan Sabet Gelar Juara Festival ini diikuti oleh delapan Sekolah Sepak Bola (SSB) dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah melalui persaingan sengit namun tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan fair play, berikut adalah daftar pemenangnya:
- Juara I: SSB Kalasan
- Juara II: SSB AMS
- Juara III: SSB BPJ
- Juara IV: SSB BPM.
Selain penghargaan tim, panitia juga memberikan penghargaan Best Player sebagai apresiasi bagi pemain yang menunjukkan performa individu paling menonjol selama kompetisi berlangsung. Program ini diharapkan menjadi referensi bagi pelatih dan organisasi sepak bola dalam menyusun sistem kompetisi kelompok umur yang lebih adaptif. Dengan adanya model kompetisi yang tepat pada fase transisi, diharapkan kesenjangan antara potensi pemain muda dengan capaian prestasi di level nasional maupun internasional dapat semakin diperkecil. Melalui dukungan UNY, kegiatan ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan praktisi olahraga di lapangan sangat krusial dalam membangun fondasi sepak bola Indonesia yang lebih profesional dan terstruktur.

Tik-Tok: @fkuny
Copyright © 2026,