Pengabdian kepada Masyarakat "Edukasi dan Pelatihan bagi Penderita Diabetes"

Dalam rangka kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Penugasan Guru Besar, telah diselenggarakan Edukasi dan Pelatihan bagi Penderita Diabetes yang tergabung dalam Persatuan Diabetes RS Pantirapih (Persadia RSPR). Acara ini dilaksanakan di Gedung Health and Sport Center (HSC) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Yogyakarta (FIKK UNY), lantai 4, pada Minggu, 24 Agustus 2025, pukul 08.00–12.30 WIB. Kegiatan mengusung tema: “Sayangi Kaki, Cegah Komplikasi dengan Masase Mandiri” dan diikuti oleh 50 anggota Persadia. Materi edukasi mengenai Komplikasi dan Perawatan Kaki pada Penderita Diabetes Mellitus disampaikan oleh dr. Jeffrey Ariesta Putra, SpBD.MAS. Selanjutnya, materi mengenai Masase Mandiri untuk Kaki Diabetes Mellitus (MAMAKADIA) dipresentasikan oleh Prof. Dr. dr. B.M. Wara Kushartanti, MS. Kegiatan edukasi juga dilengkapi dengan paparan Prof. Dr. dr. Rachmah Laksmi Ambardini, M.Kes mengenai Aktivitas Fisik pada Penderita Diabetes Mellitus. Acara dipandu oleh dr. Arif Setyo Wibowo, Sp.An-TI. Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan Masase Mandiri Kaki Diabetes (MAMAKADIA). Pelatihan diawali dengan demonstrasi, kemudian diikuti praktik bersama oleh seluruh peserta. Masase dilakukan di lantai beralas karpet. Bagi peserta yang tidak memungkinkan duduk di lantai, praktik masase dilakukan dengan posisi duduk di kursi.

Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah gangguan pada kaki. Penderita sering mengalami penurunan sensasi rasa (neuropati), gangguan sirkulasi darah (angiopati), serta kerentanan terhadap infeksi (imunopati). Kondisi tersebut menyebabkan luka sulit sembuh dan dapat berakhir pada amputasi. Oleh karena itu, perawatan kaki menjadi sangat penting untuk mencegah komplikasi maupun amputasi. Neuropati membuat penderita kurang peka terhadap nyeri, panas, maupun luka. Angiopati memperlambat proses penyembuhan luka, sedangkan imunopati menurunkan daya tahan tubuh sehingga luka semakin lama sembuh. Seluruh gangguan ini dipicu oleh kadar glukosa darah yang tinggi dalam jangka panjang, yang merusak endotel pembuluh darah serta membuat darah lebih kental.

Pemeriksaan kaki dianjurkan dilakukan setiap hari untuk mendeteksi sedini mungkin adanya luka, lecet, kemerahan, bengkak, atau perubahan warna kulit. Sejalan dengan anjuran ini, masase mandiri menjadi salah satu upaya strategis. Selain meningkatkan sirkulasi darah, masase juga membantu meningkatkan sensitivitas kulit, merelaksasi otot, mengurangi nyeri, sekaligus memonitor kondisi kaki. Penggunaan lotion atau minyak dalam masase bermanfaat untuk melembapkan kulit penderita yang biasanya kering akibat kurangnya sirkulasi darah ke perifer. Selain kelembapan kulit, aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kebersihan kaki, pemotongan kuku yang benar, serta penggunaan alas kaki yang tepat. Sepatu harus pas, menutupi seluruh permukaan kaki, empuk, dan digunakan bersama kaus kaki yang lembut. Penderita tidak diperbolehkan berjalan tanpa alas kaki, baik di dalam maupun di luar rumah.

Masase yang dilatihkan dirancang khusus untuk menjaga kesehatan kaki sekaligus membantu pengelolaan kadar glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus. Teknik yang digunakan mengadopsi manipulasi dari Swedish Massage, terutama: Petrissage (meremas–menekan), Tapotement (menepuk), dan Effleurage (menggosok). Gerakan tersebut bermanfaat untuk merilekskan otot, memperbaiki sirkulasi darah hingga ke ujung jari, serta meningkatkan sensitivitas saraf tepi. Selain itu, digunakan pula teknik penekanan sirkuler (friction) pada titik-titik tertentu, yaitu: telapak kaki, punggung kaki di antara jari ke-3 dan ke-4, empat jari di atas mata kaki bagian dalam, dan empat jari di bawah lutut sisi luar. Titik-titik tersebut diadaptasi dari akupresur yang dikenal bermanfaat bagi penderita Diabetes Mellitus. Posisi tubuh seperti bersila, menjulurkan tungkai, dan membuka tungkai diambil dari gerakan Mako Ho, yang berfungsi membantu reposisi sendi. Dengan menggabungkan ketiga metode tersebut, rancangan masase ini diharapkan dapat membantu mengatasi neuropati, angiopati, dan imunopati yang sering dialami penderita Diabetes Mellitus, sekaligus mendukung terlaksananya pemeriksaan kaki mandiri. Durasi masase dirancang selama 11 menit, dan dianjurkan dilakukan setiap hari, baik pada pagi hari setelah bangun tidur maupun sore hari setelah beraktivitas. Penting untuk dicatat bahwa masase tidak boleh dilakukan pada kaki yang sedang mengalami luka.

Kegiatan Edukasi dan Pelatihan yang diberikan kepada anggota Persadia ini diharapkan menjadi pemantik kerja sama yang lebih luas antara Fakultas Kedokteran UNY dengan komunitas penderita penyakit lain, seperti penyakit jantung, asma, dan stroke, yang juga banyak ditemukan di masyarakat. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kedua belah pihak serta mendukung terwujudnya upaya kesehatan mandiri di masyarakat.